Keren! Jamur ini bisa keluarkan asap.

jamur mengeluarkan asap

Beberapa tahun lalu sempat heboh jamur yang mengeluarkan asap dari dalam tubuhnya. Cerita awalnya sebuah pohon yang sudah mati dikira terbakar karena berasap. Namun, setelah di cek kembali, asap tersebut ternyata keluar dari jamur yang hidup pada pohon yang mati.

Kejadian tersebut terjadi beberapa kali. Durasi jamur tersebut mengeluarkan asap pun bervariasi. Bisa sekitar 10-15 menit sampai berhenti. Kadang bahkan tidak terjadi untuk selang waktu yang lama. Sehingga kejadian tersebut sulit diprediksi.

fenomena jamur berasap

Fenomena ini dilakukan jamur untuk menyebar spora mereka. Spora sendiri adalah alat jamur untuk melakukan reproduksi. Terdiri atas dua, yaitu spora seksual dan spora aseksual.

Pada tahun 2013, sebuah studi menunjukkan kebiasaan baru bagi jamur. Banyak orang awalnya mengira jamur secara pasif menyebarkan sporanya untuk bertahan hidup. Mereka biasanya hanya akan menjatuhkan sporanya ke tanah. Bergantung pada angin jika ada.

Nyatanya, ada beberapa jenis jamur yang mampu untuk menyebarkan sporanya dengan membentuk uap. Hal ini dikarenakan kebanyakan mereka hidup di dalam hutan yang jarang dilewati angin. Sehingga mereka membuat anginnya sendiri.

Keren! Jamur ini bisa keluarkan asap.

mekanisme fenomena asap

Jamur akan membuat aliran udara dengan menguapkan kandungan air dalam tubuhnya. Kemampuan evaporasi ini juga membantu mereka mendinginkan tubuh. Selain itu, udara dingin lebih padat dan lebih mampu untuk membentuk aliran udara. Aliran ini disebut sebagai aliran konveksi udara.

Uap yang keluar dari badan jamur ini terlihat seperti asap. Sehingga banyak yang salah mengira jika itu adalah asap. Padahal kenyataannya jamur dapat mengatur kondisi udara di sekitarnya.

Kemampuan jamur untuk membuat uap ini dapat membawa sporanya sejauh 4 inchi atau kurang lebih sejauh 10 sentimeter. Karenanya keahliannya untuk mengontrol cuaca di sekitarnya, jamur disebut sebagai insinyur cerdik.

Karena kemampuannya inilah jamur dapat berkembang biak dan memperbanyak populasinya.

“Riset kami menunjukkan ‘mesin-mesin’ ini jauh lebih kompleks dari: mereka mengontrol lingkungan sekitar mereka, dan membuat angin dimana itu tidak ada dalam alam,” kata Prof. Emilie Dressaire, kepala peneliti dari Trinity College di Hartford.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »