Kultivasi Jamur dan Pemanfaatan WMS

Jamur dan Limbahnya (WMS)

Jamur merupakan bahan pangan yang mengandung nutrisi yang baik untuk tubuh. Saat ini, terdapat sekitar 2000 spesies jamur yang dapat dimakan di seluruh dunia. Jamur yang paling sering dikembangbiakan adalah jamur kancing, jamur shitake, dan jamur tiram. Pasar jamur saat ini menyentuh angka 38 miliar dollar Amerika Serikat pada tahun 2018 dimana Cina menjadi top produser di daerah Asia dimana Cina menyumbang sekitar 35% total produksi jamur. Asia sendiri menyumbang 76% total produksi, disusul oleh Eropa (17,2%) dan Amerika Serikat (5,9%).

Lingkungan untuk menumbuhkan jamur harus sesuai dengan jenis jamurnya.  Dalam industry jamur, terdapat beberapa spesies yang khusus dikultivasi untuk keperluan komersil. Jamur tiram, yang paling sering kita jumpai harus di kembangbiakan pada daratan rendah. Sebaliknya, jamur shitake dan jamur kancing harus dikembangkan pada daratan tinggi dan iklim yang dingin.

Dari kultivasi tersebut, pasti terbentuk limbah yang sering disebut sebagai (Waste Mushroom Substrate) atau WMS. Limbah ini mengandung material lignocellulosic (serbuk kayu, gandum, tongkol jagung). Selain itu, terdapat pula material organic seperti protein dan karbohidrat, residu, dan nutrisi (nitrogen, fosfor dan potassium). WMS juga mengandung komponen metal berat seperti zinc, cadmium dan tembaga.

Secara umum, setelah satu siklus selesai, substrat tersebut tidak bisa digunakan kembali dan jadilah WMS. Dilaporkan bahwa dalam 1kg produksi jamur, WMS yang dihasilkan sebesar 5kg. Pada tahun 2013, terdapat 170-204 miliar kg WMS yang diproduksi. WMS mengandung kadar garam dan materi organic yang tinggi sehingga tidak boleh asal buang karena akan mencemari lingkungan.

Gambar 1. Satu Siklus Budidaya Jamur

Solusi?

Untuk menanggulanginya, banyak studi-studi terkini yang berfokus pada pemanfaatan WMS menjadi substrat untuk kultivasi jamur tiram. Dalam sebuah studi, dilaporkan bahwa sudah ada beberapa pendekatan untuk menggunakan WMS sebagai bahan kultivasi. Dikarenakan WMS merupakan limbah agrikultur, ini memiliki potensi tinggi untuk digunakan untuk kultivasi jamur tiram. Selain dari itu, dengan menggunakan bahan yang diperoleh secara organic (limbah agrikultur), maka biaya operasional akan lebih murah.

Pada akhirnya WMS dapat digunakan sebagai pupuk dan kompos. Selain itu, dengan meningkatnya perkembangan teknologi, WMS dapat menjadi salah satu alternatif untuk energi alternative yang baru. Oleh karena itu, jangan sia-siakan jamur yang telah dipanen. Cara yang paling mudah adalah dengan mengonsumsi makanan yang terbuat oleh jamur. Mushome dan Meatless Kingdom dapat menjadi pilihan utama bagi kalian. Terutama yang suka dengan kripik jamur dan makanan daerah Indonesia seperti rendang, gepuk dan dendeng. Selain itu, produk baru yaitu bakkwa telah launching secara ekslusif di blibli.com

Jurnal: Journal of Hazardous Material, Volume 400, 5 December 2020

Image by: unsplash.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »